“ AKU DAN SEBUAH
CERITA”
Sore itu seperti biasa, lantunan
nada-nada indah selalu terdengar di sudut kamar ayah, piano yang sudah berumur
tua dan penuh kenangan indah tentang ayah dan ibu selalu saja dimainkan
ayah,hmmmmmm tenang rasanya selalu mendengarkan lantunan piano ayah saat itu,
namun sekarang hanya ada aku dan ibu. Takkan ada lagi lantunan piano terdengar, takkan ada
lagi senyuman ayah ketika ia memainkan piano yang penuh kenangan itu. Saat ini
dan selamanya aku dan ibu tak kan bisa melihat ayah lagi, tak ada lagi
ketenangan, tak ada lagi kedamaian seperti ayah masih ada disini.
Namun hidupku terus berjalan,aku pun belajar bagaimana ayah
memainkan nada-nada indah dari piano tua itu. Mengingatnya ketika ia berkorban
untukku ketika kecelakaan maut terjadi saat usiaku 11 tahun. Demi aku ayah rela
mendonorkan kornea matanya untukku, dan tak memikirkan siapapun kecuali aku,
padahal saat itu nenek meninggal,ibunya meninggal ia tak memikirkannya dan
hanya aku “Nada”. Mata
ini hadiah terindah dan paling
berharga dari ayah untukku.
Suatu malam saat aku memainkan piano
tua ayah, ibu menghampiriku dan berkata “Nada, apakah ibu akan terus hidup
tanpa ayah mu???” sambil mengusap air matanya, ibu menatapku penuh tanya dan sepertinya
saat itu ibu sudah tidak kuat membendung air matanya dan akhirnya tumpah
dihadapanku, “bu, kenapa ibu harus berkata begitu, buktinya saat ini ibu masih
disini bersamaku dan itu artinya ibu masih kuat, ayah memang sudah pergi dan
Nada pun sakit karena kepergian ayah, namun hidup terus harus berjalan, karena
ayah disana pun masih butuh kita bu, ayah butuh kiriman do’a-do’a dari kita”
jawab ku kepada ibu. Seketika ibu memelukku sangat
erat dan seakan tak mau lepas, ibu pun menangis sekeras-kerasnya malam itu.
“Nada” terdengar suara ibu dari luar
kamarku, membangunkanku karna pagi telah datang kembali, akupun terbangun dan
langsung membersihkan kamar yang tampak berantakan,mandi dan langsung
menghampiri ibu dimeja makan, “hai bu, pagi ini sarapan apa” sapaan ku pada ibu
dengan ekspresi riang. Ibu menjawab “roti bakar isi keju kesukaan mu nak” “waaaahhhh
eeennnaaak” jawab ku sambil tersenyum kegirangan kepada ibu, “ Nada, bagai mana
kuliah mu, apa lancar-lancar saja??” tanya ibu pada ku. “hmmmm sejauh ini
lancar-lancar saja bu, dan pagi ini ada mata kuliah yang paling aku senangi”
sambil mengunyah makanan yang ada dimulutku, “mata kuliah apa nak?” tanya ibu
kembali sambil menyodorkan segelas susu hangat, “piano, hari ini aku dan
teman-teman sekelas akan bermain piano, dan kami juga akan melantunkan
instrument piano klasik buu, waaaah hari ini seru deh buu, ya dah bu Nada jalan
dulu ya” sembari menghabiskan potongan terakhir dari roti bikinan ibu,“ya sudah
hati-hati dijalan ya” sambil mencium pipi ku.
Dengan riangnya aku
berangkat kekampus,tak lama kemudian teman-temanku datang menghampiri ku dan
mengobrol sebentar denganku. Mata kuliah ku sebentar lagi dimulai “hmmmm senang rasanya belajar piano
pagi ini” ucap ku pada teman-temanku. Dikelas aku memperhatikan sekali bagaimana
cara orang bermain piano dengan baik. Ternyata kita harus merilexkan
otot-otot jari tangan terlebih dahulu, awalnya aku tertawa geli melakukan hal
itu, teman-temanku pun begitu. Ketika dosen melihatku seperti itu aku langsung
terdiam dan berkata dalam hati “ apa ini cara ku agar aku bisa pintar bermain
piano seperti ayah,dengan menertawakan dosenku??? Aku yakin ayah tak pernah
menertawakn gurunya, mulai sekarang dan sampai nanti aku takkan melakukannya
lagi”. Aku pun berhenti menertawakan dosenku,dan terus mengikuti apapun yang ia
katakan.
Hari demi hari ku habiskan dengan
bermain piano bersama ibu, sembari aku latihan dan merilexkan otot tanganku. Waktupun
terus berjalan,sampai suatu hari test pengambilan nilai praktik terakhirku di
mulai dan kebetulan hari terakhir adalah praktik memainkan alat musik piano,
namun pada saat itu ada banyak sekali tim penilainya, aku pun heran “perasaan
praktik-praktik yang lain tim penilainya sedikit tidak sampai lima orang, ini
kok banyak sekali” bisikku dalam hati
sambil mengambil nafas panjang.
Tibalah giliran
ku, dengan gugup aku mulai memainkan sebuah lagu,dan saat itu aku membawakan
lagu yang sering dimainkan ayah untukku. Tak ku sangka setelah selsai memainkan
piano tersebut semua orang bertepuk tangan seakan mereka merasakan kenangan
dari lagu itu, seakan mereka takjub kepada ku. Tiba-tiba seseorang dengan jas
hitam dan bertopi ala koboy menghampiriku dan berkata, “maukah kau bermain
dalam sebuah konser bersamaku”, aku merasa itu sebuah kejutan besar dan tentu
saja aku menjawabnya tanpa basa-basi “ YA .. !!,
tentu pak” hanya itu yang terucap dariku.
Akhirnya aku datang dan bermain
piano pada konser itu dan sambutan yang sama aku dapatkan dari semua orang yang
menontonku. Tepuk tangan yang meriah, suara teriakan yang menyebutkan namaku pun
terus terdengar. Bahagia rasanya bisa menjadi bagian dari konser itu meski ayah
tak dapat melihat ku memainkan lagu yang sering ia bawakan. Miris rasanya namun
aku percaya di atas sana ayah pasti bangga pada ku, dan aku terus berdoa agar
aku bisa memiliki konser sendiri dan tidak lagi menjadi pengisi acara namun
sebagai bintang dalam sebuah konser.
Beberapa tahun kemudian……………
Akhirnya
aku berhasil mewujudkan impianku untuk memiliki konser sendiri , konser itu aku beri judul“KU
PETIK BINTANG”. Konser itu aku
persembahkan untuk ibu dan terutama ayah, karena jika tanpa ayah aku tidak akan
menjadi seperti ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar