Minggu, 01 November 2015

AKU DAN SEBUAH CERITA


AKU DAN SEBUAH CERITA
                Sore itu seperti biasa, lantunan nada-nada indah selalu terdengar di sudut kamar ayah, piano yang sudah berumur tua dan penuh kenangan indah tentang ayah dan ibu selalu saja dimainkan ayah,hmmmmmm tenang rasanya selalu mendengarkan lantunan piano ayah saat itu, namun sekarang hanya ada aku dan ibu. Takkan ada lagi lantunan piano terdengar, takkan ada lagi senyuman ayah ketika ia memainkan piano yang penuh kenangan itu. Saat ini dan selamanya aku dan ibu tak kan bisa melihat ayah lagi, tak ada lagi ketenangan, tak ada lagi kedamaian seperti ayah masih ada disini.
            Namun hidupku terus berjalan,aku pun belajar bagaimana ayah memainkan nada-nada indah dari piano tua itu. Mengingatnya ketika ia berkorban untukku ketika kecelakaan maut terjadi saat usiaku 11 tahun. Demi aku ayah rela mendonorkan kornea matanya untukku, dan tak memikirkan siapapun kecuali aku, padahal saat itu nenek meninggal,ibunya meninggal ia tak memikirkannya dan hanya aku “Nada”. Mata ini hadiah terindah dan paling berharga dari ayah untukku.
            Suatu malam saat aku memainkan piano tua ayah, ibu menghampiriku dan berkata “Nada, apakah ibu akan terus hidup tanpa ayah mu???” sambil mengusap air matanya, ibu menatapku penuh tanya dan sepertinya saat itu ibu sudah tidak kuat membendung air matanya dan akhirnya tumpah dihadapanku, “bu, kenapa ibu harus berkata begitu, buktinya saat ini ibu masih disini bersamaku dan itu artinya ibu masih kuat, ayah memang sudah pergi dan Nada pun sakit karena kepergian ayah, namun hidup terus harus berjalan, karena ayah disana pun masih butuh kita bu, ayah butuh kiriman do’a-do’a dari kita” jawab ku kepada ibu. Seketika ibu memelukku sangat erat dan seakan tak mau lepas, ibu pun menangis sekeras-kerasnya malam itu.
            “Nada” terdengar suara ibu dari luar kamarku, membangunkanku karna pagi telah datang kembali, akupun terbangun dan langsung membersihkan kamar yang tampak berantakan,mandi dan langsung menghampiri ibu dimeja makan, “hai bu, pagi ini sarapan apa” sapaan ku pada ibu dengan ekspresi riang. Ibu menjawab “roti bakar isi keju kesukaan mu nak” “waaaahhhh eeennnaaak” jawab ku sambil tersenyum kegirangan kepada ibu, “ Nada, bagai mana kuliah mu, apa lancar-lancar saja??” tanya ibu pada ku. “hmmmm sejauh ini lancar-lancar saja bu, dan pagi ini ada mata kuliah yang paling aku senangi” sambil mengunyah makanan yang ada dimulutku, “mata kuliah apa nak?” tanya ibu kembali sambil menyodorkan segelas susu hangat, “piano, hari ini aku dan teman-teman sekelas akan bermain piano, dan kami juga akan melantunkan instrument piano klasik buu, waaaah hari ini seru deh buu, ya dah bu Nada jalan dulu ya” sembari menghabiskan potongan terakhir dari roti bikinan ibu,“ya sudah hati-hati dijalan ya” sambil mencium pipi ku.
            Dengan riangnya aku berangkat kekampus,tak lama kemudian teman-temanku datang menghampiri ku dan mengobrol sebentar denganku. Mata kuliah ku sebentar lagi  dimulai “hmmmm senang rasanya belajar piano pagi ini” ucap ku pada teman-temanku.             Dikelas aku memperhatikan sekali bagaimana cara orang bermain piano dengan baik. Ternyata kita harus merilexkan otot-otot jari tangan terlebih dahulu, awalnya aku tertawa geli melakukan hal itu, teman-temanku pun begitu. Ketika dosen melihatku seperti itu aku langsung terdiam dan berkata dalam hati “ apa ini cara ku agar aku bisa pintar bermain piano seperti ayah,dengan menertawakan dosenku??? Aku yakin ayah tak pernah menertawakn gurunya, mulai sekarang dan sampai nanti aku takkan melakukannya lagi”. Aku pun berhenti menertawakan dosenku,dan terus mengikuti apapun yang ia katakan.
            Hari demi hari ku habiskan dengan bermain piano bersama ibu, sembari aku latihan dan merilexkan otot tanganku. Waktupun terus berjalan,sampai suatu hari test pengambilan nilai praktik terakhirku di mulai dan kebetulan hari terakhir adalah praktik memainkan alat musik piano, namun pada saat itu ada banyak sekali tim penilainya, aku pun heran “perasaan praktik-praktik yang lain tim penilainya sedikit tidak sampai lima orang, ini kok banyak sekali” bisikku dalam hati sambil mengambil nafas panjang.
Tibalah giliran ku, dengan gugup aku mulai memainkan sebuah lagu,dan saat itu aku membawakan lagu yang sering dimainkan ayah untukku. Tak ku sangka setelah selsai memainkan piano tersebut semua orang bertepuk tangan seakan mereka merasakan kenangan dari lagu itu, seakan mereka takjub kepada ku. Tiba-tiba seseorang dengan jas hitam dan bertopi ala koboy menghampiriku dan berkata, “maukah kau bermain dalam sebuah konser bersamaku”, aku merasa itu sebuah kejutan besar dan tentu saja aku menjawabnya tanpa basa-basi “ YA .. !!, tentu pak” hanya itu yang terucap dariku.
            Akhirnya aku datang dan bermain piano pada konser itu dan sambutan yang sama aku dapatkan dari semua orang yang menontonku. Tepuk tangan yang meriah, suara teriakan yang menyebutkan namaku pun terus terdengar. Bahagia rasanya bisa menjadi bagian dari konser itu meski ayah tak dapat melihat ku memainkan lagu yang sering ia bawakan. Miris rasanya namun aku percaya di atas sana ayah pasti bangga pada ku, dan aku terus berdoa agar aku bisa memiliki konser sendiri dan tidak lagi menjadi pengisi acara namun sebagai bintang dalam sebuah konser.
Beberapa tahun kemudian……………
Akhirnya aku berhasil mewujudkan impianku untuk memiliki konser sendiri , konser itu aku beri judul“KU PETIK BINTANG”. Konser itu aku persembahkan untuk ibu dan terutama ayah, karena jika tanpa ayah aku tidak akan menjadi seperti ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar